Loading...

Memuat...

80 Tahun Merdeka-Menyelami Makna Kebebasan Dalam Cermin Sufisme

23/08/2025 08:08 WIB - Agus Gunawan
Tahun ini Indonesia memasuki usia 80 tahun kemerdekaan. Delapan dekade bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah bangsa untuk menegakkan kedaulatan, mempertahankan persatuan, dan berjuang menghadirkan kesejahteraan. Namun, di balik gemuruh perayaan kemerdekaan dengan bendera, lagu, dan upacara, ada pertanyaan yang lebih mendalam: apakah kita benar-benar merdeka?
Pertanyaan ini bukan hanya soal politik atau ekonomi. Ia menyentuh dimensi paling dalam dari diri manusia: kebebasan batin. Inilah yang dibicarakan para sufi sepanjang zaman. Mereka mengingatkan bahwa merdeka bukan hanya lepas dari penjajahan asing, tapi juga terbebas dari belenggu nafsu, ego, dan segala hal yang menjauhkan kita dari Tuhan.
Merdeka Lahir, Merdeka Batin

Para pejuang bangsa dulu merebut kemerdekaan dengan darah dan air mata. Mereka melawan penjajahan agar rakyat bisa hidup tanpa penindasan. Itu adalah kemerdekaan lahiriah. Namun, para sufi menambahkan dimensi lain: merdeka batiniah.

Seorang ulama sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah menulis bahwa musuh paling berat bukanlah tentara bersenjata, tetapi hawa nafsu yang bercokol di dalam diri. Jika bangsa hanya merdeka secara lahir, tapi masih diperbudak oleh keserakahan, kebencian, atau korupsi, maka kemerdekaan itu belum sempurna.

Kebebasan dalam Kacamata Sufisme

Bagi kaum sufi, kebebasan sejati adalah ketika hati hanya tunduk kepada Allah. Seseorang bisa saja hidup di negeri merdeka, tetapi jika pikirannya terpenjara oleh rasa takut, iri, atau kecemasan, maka ia belum benar-benar bebas. Sebaliknya, ada orang yang hidup dalam keterbatasan materi, namun jiwanya lapang dan damai karena dekat dengan Tuhan—itulah kemerdekaan yang hakiki.

Di sinilah generasi muda bisa belajar. Tantangan hari ini bukan lagi meriam atau penjajah berseragam, melainkan distraksi dunia digital, tekanan sosial, dan pencarian jati diri yang sering membuat hati gelisah. Media sosial, misalnya, bisa menjadi arena baru perbudakan jika kita kehilangan kendali—kita sibuk mengejar likes, views, dan pengakuan, tetapi melupakan kedamaian batin.

Mengisi Kemerdekaan dengan Jiwa Merdeka

Maka, peringatan 80 tahun kemerdekaan seharusnya menjadi momen refleksi: sudahkah kita merdeka dari belenggu batin kita sendiri? Generasi muda yang kelak menjadi pewaris bangsa perlu menanamkan nilai-nilai sufistik:

  • Dzikir sebagai pengingat jati diri. Dengan mengingat Allah, kita tidak mudah goyah oleh tekanan dunia.
  • Syukur sebagai energi positif. Dengan mensyukuri apa yang ada, kita terhindar dari iri dan dengki yang merusak hati.
  • Cinta kasih sebagai fondasi. Sufi selalu mengajarkan bahwa cinta adalah inti agama. Jika bangsa ini dibangun di atas cinta, tidak akan ada ruang bagi kebencian yang memecah-belah.
Dari Syuhada ke Generasi Z

Delapan puluh tahun lalu, para syuhada bangsa rela mengorbankan jiwa demi kemerdekaan. Hari ini, generasi Z ditantang bukan untuk mengangkat senjata, tetapi untuk menjaga nilai kemerdekaan dengan cara baru: melawan hoaks, menolak perpecahan, melindungi lingkungan, dan menghidupkan budaya saling menghormati. Semua itu hanya mungkin dilakukan jika jiwa kita benar-benar merdeka.

Menutup dengan Renungan

Kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa adalah amanah. Ia bukan hanya kebebasan untuk berbuat sesuka hati, tetapi kesempatan untuk mengarahkan bangsa menuju kebaikan. Dalam perspektif sufisme, kemerdekaan adalah jalan untuk semakin dekat kepada Allah, karena hanya dengan-Nya jiwa manusia mencapai kebebasan yang sejati.

Mari kita rayakan 80 tahun Indonesia bukan hanya dengan pesta lahiriah, tetapi juga dengan tekad batin: menjadi bangsa yang merdeka lahir dan batin. Sebab, hanya bangsa yang jiwanya merdeka yang bisa benar-benar menjaga kemerdekaan lahiriahnya.

Tag/Kategori:

Artikel