Menyiarkan Thariqah, Menyatukan Bangsa Peran Spiritualitas di Tengah Polarisasi
22/08/2025 18:05 WIB - Agus Gunawan
Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perubahan sosial, bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan besar: polarisasi. Media sosial yang sejatinya diciptakan untuk mempererat komunikasi, justru kerap menjadi medan perpecahan. Politik sering membelah masyarakat dalam sekat “kami” dan “mereka.” Bahkan, di ruang-ruang kecil keluarga dan pertemanan, perbedaan pilihan bisa menimbulkan renggangnya silaturahmi.
Dalam kondisi seperti inilah, moto JATMAN – yang kerap kita temukan di sudut bawah lembar surat Jatman, “Menyiarkan Thariqah, Melahirkan Kemaslahatan” menemukan relevansinya. Thariqah bukan hanya jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga sebuah kekuatan moral yang dapat merajut persatuan bangsa.
Spirit Thariqah: Menyatukan Hati Sebelum Menyatukan Barisan
Seorang sufi pernah berkata, “Apabila hati manusia penuh dengan dzikir, maka ia akan sulit membenci sesamanya.” Inilah inti dari thariqah. Dzikir tidak berhenti di lisan, tetapi mengendap dalam hati, mengubah cara pandang, dan menumbuhkan kasih sayang.
Bangsa kita tidak kekurangan kecerdasan, sumber daya alam, ataupun tenaga muda. Yang kerap hilang adalah ketulusan hati untuk saling mengasihi. Thariqah hadir untuk menambal robekan itu. Dengan membersihkan hati dari iri, dengki, dan kebencian, murid thariqah belajar bahwa musuh sejati bukanlah orang yang berbeda pilihan politik, melainkan hawa nafsu yang merusak persaudaraan.
Menyiarkan Thariqah: Membawa Nilai Tasawuf ke Ruang Publik
Kata “menyiarkan” dalam moto JATMAN memiliki makna luas. Bukan sekadar menyebarkan amalan wirid di majelis dzikir, melainkan menghadirkan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan sosial.
Tasawuf yang disyiarkan bukanlah tasawuf yang eksklusif, melainkan tasawuf yang inklusif. Ia bisa hadir di ruang politik dengan membawa etika, di dunia bisnis dengan menghadirkan kejujuran, dan di masyarakat dengan menumbuhkan kepedulian. Dengan cara inilah thariqah dapat menjadi jembatan yang menyatukan bangsa.
Kemaslahatan: Dzikir yang Berbuah Aksi
Dzikir yang benar akan melahirkan kemaslahatan. Inilah pesan penting yang sering dilupakan. Orang yang hatinya tenang karena dzikir akan lebih mudah mengalahkan ego, lebih rela berbagi, dan lebih siap mendahulukan kepentingan bersama.
Kemaslahatan yang dimaksud bukan hanya dalam bentuk spiritual, tetapi juga sosial:
- Membangun persaudaraan di atas perbedaan.
- Memberdayakan ekonomi jamaah dan masyarakat sekitar.
- Menghadirkan pendidikan yang berbasis akhlak.
- Membantu yang lemah dan menjaga keadilan sosial.
Dengan cara ini, thariqah membuktikan dirinya bukan pelarian dari dunia, melainkan energi untuk memperbaiki dunia, teristimewa untuk Indonesia sebagai rumah bersama. Seperti rumah, ia bisa menjadi nyaman bila penghuninya saling menghormati, atau sebaliknya menjadi panas bila diisi kebencian.
Polarisasi politik dan media sosial hanya bisa diatasi jika ada kekuatan batin yang menumbuhkan kesabaran dan cinta kasih. Tanpa itu, pendidikan setinggi apapun bisa kalah oleh amarah, dan teknologi canggih bisa menjadi alat perpecahan. Thariqah menawarkan jalan tengah: menguatkan ruhani, menumbuhkan akhlak, lalu mengarahkan energi itu untuk membangun bangsa.
Penutup
Moto JATMAN, “Menyiarkan Thariqah, Melahirkan Kemaslahatan,” mengingatkan kita bahwa dzikir bukan sekadar aktivitas pribadi, melainkan energi sosial. Ia menyatukan hati sebelum menyatukan barisan, dan dari situlah lahir kemaslahatan.
Dalam situasi bangsa yang mudah terbelah, thariqah dapat menjadi kekuatan moral yang merajut persatuan. Indonesia tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan jiwa. Thariqah—jika benar-benar disyiarkan—dapat menjadi suluh yang menerangi perjalanan bangsa menuju kedamaian dan kemaslahatan.[]