Loading...

Memuat...

Kemerdekaan sebagai "Rahmat Allah" dari Tinjauan Tasawuf

21/08/2025 00:50 WIB - Dodo Widarda
Pada tanggal 17 Agustus 2025, kemerdekan kita memasuki usia ke-80 tahun, satu usia yang cukup panjang bagi perjalanan sebuah bangsa yang telah mengalami siklus kelahiran, masa awal-awal kemerdekaan, masa pematangan kehidupan berbangsa, serta masa keemasan. Serta, pada usia 80 tahun yang cukup tua jika dibandingkan dengan usia manusia, telah mengalami gejala berbagai penyakit akut, seperti melunturnya idealisme, gejala hedonismeyang merebak kuat di segenap lapisan struktur sosial, korupsi yang merejalela, kehidupan yang sulit, tahap pertumbuhan ekonomi yang lambat, dan lain sebagainya.
Tentang masa kelahiran, pertumbuhan, kejayaan, serta kemunduran memang telah menjadi perhatian banyak pemikir filsafat sejarah seperti Ibnu Khaldun, Arnold Y. Toynbee, serta Oswald Spengler. Kalau mengikuti siklus sejarah seperti dari para pemikir besar tersebut, kita sekarang berada pada fase kemunduran.
Tulisan ini bermaksud menilai kalimat "atas berkat Rahmat Allah" seperti dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, serta memberinya refleksi dari sudut pandang tasawuf. Mudahan-mudahan sebagai sebuah ikhtiar memberikan kesadaran bagi kelahiran kembali bangsa ini seperti yang 'diimajinasikan' para pejuang terdahulu untuk kemerdekaan bangsa ini.
Atas Berkat Rahmat Allah
Para faunding fathers kita yang di dalamnya terdapat para ulama sebagai perumus UUD 1945 seperti KH. Wahid Hasyim. KH. Agus Salim, Ki Bagus Hadi Kusumo adalah orang-orang yang telah memberi sentuhan nilai-nilai agama terhadap teks dari Pembukaan UUD 1945. Bahkan, nilai-nilai dasar dari tasawuf menjadi ruh dari pencapaian kemerdekaan bangsa kita.
Kalau dengan bahasa Kitab Al-Hikam Ibnu Atha'illah as-Sakandarî, adanya ungkapan langsung di dalam alinea 3 "Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa" terbangun atas kesadaran untuk tidak menggantungkan diri pada amal (i'timâdi 'alal amâli) kecuali segalanya disandarkan pada rahmat Allah. Dari kesadaran spiritual, baru kemudian menyandarkan pada faktor ikhtiar dari manusia dengan ungkapan "dan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaanya
Kesadaran religius ini telah menempatkan "Rahmat Allah" di atas faktor ikhtiar manusia. Berbagai catatan sejarah mendeskripsikan, bangsa kita ini mencapai kemerdekaan dengan berdarah-darah baik pada saat memperjuangkan, merebut pada saat Proklamasi 17 Agustus 1945, dan saat mempertahankannya. Tidak mendapatkannya dengan mudah karena 'hadiah' bangsa lain.
Kini, setelah 80 tahun dari usia kemerdekaan tercapai, ketika banyak dari cita-cita kehidupan bangsa "jauh panggang dari api", kita tidak mesti berputus asa. Ikhtiar perbaikan harus tetap kita lakukan dengan maksimal serta optimis agar kapal 'kebangsaan' ini tidak sampai karam. Dalam Al-Hikam Hikmah ke-1: "Di antara tanda-tanda bahwa seseorang bertumpu pada kekuatan amal usahanya ialah kurangnya pengharapan (terhadap rahmat anugerah Allah) ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa." Di dalam semangat kolektif kebangsaan, segala kesalahan kita yang membuat bangsa mengalami degradasi dari cita-cita awalnya, harus tetap optimis bisa kita perbaiki karena rahmat Allah lebih luas dari murkanya.
Pihak paling tepat untuk menata ulang bangunan kebangsaan kita sebagai kelompok "minoritas kreatif" adalah para 'sâlik' (penempuh jalan rohani). Para sâlik adalah orang-orang yang hatinya wushul terhadap Allah, agenda perbaikannya adalah menyuntikkan sifat ihsân (merasa diawasi Allah), sehingga ini, menurut penulis, menjadi satu agenda besar JATMAN sebagaimana yang dimaksudkan Mudir Ali, Prof. Dr. Ali Masykur Musa "meng-insert tarekat dalam kehidupan berbangsa."[]

Tag/Kategori:

TasawufKemerdekaan